Iqra, Bacalah! Maknai diri!

Standard

Tak putus makna bila terus berdelik tentang nama. Begitulah manusia, ada saja cara untuk mengekspresikan kejenakaan diri. Tapi, tak semua bisa berbuat demikain. Laksana ungkapan pepatah lawas, lain lubuk lain pula ikannya. Lain orang lain pula sifatnya. Kejenakaan dan ekspresi diri adalah bagian unik dari diri manusia.
Maka, janganlah sangsi bila bertemu dengan mereka yang memiki temperamen yang keras laksana karang diterjang badai, teguh tak tergoyahkan. Atau, berjumpa dengan mereka yang kemayu serupa putri keraton, gemulai nan menawan. Atau, bersua dengan mereka yang serba tak peduli, mengikatkan diri pada norma hidup orang modern yang bersorak dibalik tembok-tembok pencakar langit, acuh tak acuh. Atau, bersahabat dengan mereka yang menyenangkan. Populer dimana-mana. Ramah dan di senangi. Menyerupai artis dangdut dadakan. Atau mungkin juga berkomplot dengan mereka yang berjiwa patriot. Tak segan mengulurkan tangan, membaktikan diri untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan. Tak tega melihat kemungkaran merajalela di persada bumi ini.
Semua itu ada disekitar kita! Hidup, dan berbaur dengan masyarakat yang beragam! Itulah rupa-rupa kawan, sahabat, kerabat ataupun musuh. Kadang tak tampak diri bila tak disentuh. Tapi jangan coba-coba mengusiknya. Ia akan bangkit laksana harimau liar haus darah, ditengah gemuruh tepukan penonton yang sedang menyemangati para gladiator-gladiator Roma untuk membela harga diri mereka. Laksana lebah liar memburu pencari sari pati kehidupan, madu. Begitulah, sekilas gambaran kepribadian dan keyakinan bila mulai disepelekan. Tak kenal letih bertingkah hingga pengakuan diperolehnya.
Karena pengakuan itu pulalah yang membuat banyak nyawa tersia-siakan. Banyak jiwa merana. Banyak hasrat terkuburkan. Bahkan banyak mimpi tinggal mimpi. Lapuk ditengah pergulatan pengakuan dan penemuan jati diri. Misteri itu mengundang tanya. Mengapa harus seperti itu? Apakah itu adalah bagian yang harus ditanggung oleh manusia akibat telah berani bersumpah untuk menuruti segala perintah-Nya saat masih di alam rahim? Atau itu sudah menjadi takdir jiwa-jiwa yang tersembunyi, hanya menampakkan diri setelah melalui pergulatan panjang kehidupan? Atau, karena desakan adrenalin yang meminta penyaluran? Jawabannya ada pada diri masing-masing. Dan itu juga tertuju padaku.
Ternyata kehidupan ini tak seindah tarian India, meliuk-liuk memabukkan jiwa diiringi gemerincing gelang-gelang kaki. Tak sebahagia Rama dan Sinta setelah kembali dari penculikan Rahwana dalam lakon Ramayana. Ataupun tidak seakrab padi dan kapas yang bersatu padu pada lambang sila kelima Pancasila. Namun, kalau boleh aku beberkan, hal itu bahkan lebih dramatis. Lebih eksotis dari nuansa fajar di atas bukit Kamanre dengan hamparan sawah menghijau. Lebih inspiratif dari novel dan film laskar pelangi. Bahkan lebih menyentuh dari petualangan film Cast Away. Semua itu karena kehidupan memiliki nyawa, mempunya jiwa dan menyentuh rasa. Ia berani menantang Lanun di lautan. Menembus halimun di puncak Himalaya. Bahkan, rela mencari cinta di dunia maya. Dunia petualangan jagat lewat kubus tombol, hurup dan angka. Penuh misteri!
Pernah sekali waktu aku berjalan menyusuri lorong laksana tak berujung. Di los-los penjaja rombengan di pasar tua, tempatku tinggal. Kala itu, aku masih terdaftar sebagai siswa sekolah peracik obat. Sekolah yang penghuninya didominasi kaum hawa. Sekolah yang seusai jam sekolah, kaumnya di tunggu para serdadu cinta sekolah kelistrikan. Sekolah harapan orang tuaku demi melihatku berseragam putih biru. Sekolah yang beda dengan sekolah menengah atas pada umumnya. Sekolah penuh tugas rumah, praktek laboratorium dan hapalan. Aku berjalan beriringan dengan saudariku. Dia, perempuan berhati mulia, suka berbagi suka dengan yang lain. Dia yang setiap saat mengamati setiap gerik langkahku. Dia adalah wanita anggun, perkasa, ramah dan periang tapi sedikit menyebalkan. Apalagi kalau menyangkut tentang prilakuku yang suka mengoleksi, khususnya bahan bacaan dan poster pemain sepakbola kegemaranku. Ia tipe wanita berkepribadiaan sanguinis popular seperti yang digambarkan Florence Littauer dalam buku Personality Plus. Tapi, karena dia pulalah segala kehidupannku penuh warna.
Sejak kecil aku telah diasuhnya. Dididiknya. Bahkan setelah aku beranjak remajapun dia masih setia menemani dan menuntunku. Aku turut pada perintahnya. Patuh pada aturannya. Runut pada titahnya. Tapi sore itu, saat aku bersamanya di pasar, aku membangkang. Sableng! Tak tahu apa yang telah merasuk dalam kepala cepakku itu. Aku benar-benar bukan diriku sebelumnya. Rafidi, menyimpang dari apa yang telah diajarkannya. Sikapku itu jelas membuatnya cemberut. Dia tak berkomentar! Membiarkan diriku berlalu. Romannya menunjukkan sikap tak terima.
Tapi aku tlah terlanjur murtad. Barang yang kubawa kucampakkan. Aku berlalu. Ia menatapku tanpa kata dari kejauhan. Memolototi langkah-langkahku. Hingga, aku menghilang dibalik tumpukan barang jualan. Lalu tiba-tiba, saat aku berbelok arah memasuki sebuah los yang padat pengunjung. Seorang penjaga toko yang cantik, ramah dan menawan menahanku. Ia memandangku. Menatapku. Lekat dan dalam! Lalu, dengan bijak dia berkata, “Anak muda, aku tidak tahu persoalan apa yang saat ini engkau hadapi. Aku juga tidak tahu alasan apa yang membuatmu durjana. Namun, yang aku tahu bahwa apa yang engkau lakukan itu tidak sepatutnyga engkau perbuat, sebagai seorang laki-laki!” Aku terdiam. Bingung! Sorot matanya menembus ulu hatiku. Aku tertunduk! Lalu, dia kembali bersabda. “Jangan engkau tumpukkan harga dirimu atas barang bawaanmu anak muda. Jangan pula engkau pandang dirimu dengan martabat yang tinggi karena kedudukanmu, pendidikanmu atau bentuk lahiriahmu. Jangan! Jangan kau gadai semua itu dengan pengorbanan dia. Dia yang engkau sanjung!.” Aku tertegun. Kaku. Membisu.! Dalam hati aku bertanya, dari mana orang ini bisa tahu apa yang aku alami? Apa ia telah membuntutiku sejauh ini? Apa ia orang yang berilmu tinggi hingga bisa mengetahui kegalauanku? Atau jangan-jangan dia malaikat yang diutus untuk memperingatkanku! Aku gamang. Kata-kata itu menusuk dalam, dalam hatiku.
Setiba di rumah, aku merenung. kubayangkan kembali peristiwa yang baru saja kualami. Kutelaah setiap kejadian yang kulalui. Kutelusuri kembali muasal kelahiranku. Kususuri setiap detik yang kulewati. kuamati perubahan diri yang kujalani. Kucoba menggali kembali setiap memori indah tentang perjalanan hidupku. Sayup-sayup semuanya seakan menari dipelupuk mataku. Aku tersadar. Apa yang kulakukan sore tadi adalah gambaran liar diriku. Gambaran betapa aku kini berusaha untuk mencari jati diriku yang sebenarnya. Berusaha menjadi pribadi yang utuh. Aku tahu bahwa itu bukanlah cara bijaksana dan gentlement untuk menjadi baik dengan membangkang.
Tapi, nasi telah jadi bubur. Aku telah terlajur melukai hatinya. Alasannya sederhana saja, karena aku tak tahan melihat diriku dipenuhi barang belanjaan sambil berjalan dikerumunan. Karena aku merasa rendah diri dilabeli macam-macam prasangka orang yang melihatku. Karena aku kikuk menonjolkan diri di keramaian. Karena aku telah melihat diriku terlalu kerdil dengan kesombongan yang besar. Karena aku tak terbiasa dengan perubahan diriku. Diri yang dipenuhi perasaan malu dan keras kepala. Bimbang, bingung, ragu, susah senang menyelimuti diri dalam menentukan sikap. Aku kehilangan keteguhan diriku. Lalu aku berusaha membuat kesimpulan sendiri, menandai hidup ini dengan pendapat diri yang dangkal. Hidup tidak hanya memberi kelimpahan sari pati kehidupan dan cinta kasih, tetapi juga menuntun diri dalam bui kenistaan dan kemunafikan. Sungguh ironi! Tapi begitulah adanya. Gara-gara terlalu canggung dengan lingkungan yang serasa meneriakiku, aku rela menggadainya dengan ketulusan kakakku, wanita yang sangat aku hormatiku.
Semalaman aku tak tidur. Mata ini baru terpejam setelah selesai shalat shubuh. Itu juga setelah kupaksakan. Akhirnya, aku terlelap juga. Pagi-pagi aku terbangun dengan muka kusut. Tak ada cahaya di sana. Gunda gulana. Setelah peristiwa itu, aku berusaha untuk memahami setiap perubahan yang kualami. Aku berjanji akan selalu menempatkan segalanya diatas pertimbangan matang nan rasional.
Tak tanggung-tanggung, untuk mengimplementasi janjiku itu, aku mengumpulkan beberapa buku bacaan sebagai referensi. Aku melahap buku tersebut dan berusaha mengamalkan isinya. Intinya, pengendalian diri. Bagaimana mengendalikan diri dan berusaha menjadi pribadi yang positif, sehat dan menyenangkan. Berat memang! Tapi demi kebaikan diri, kujalani juga. Aku berharap bisa lebih baik dari sebelumnya. Karena, aku yakin dengan membaca, selain melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan, juga membuka jendela untuk mengenal dunia ini lebih jauh.
“Iqra, bacalah!” Demikian kitab suci agamaku, Alquran, mengajarkan bagaimana menguak misteri, maha karya Sang Pencipta, Allah, SWT., jagat ini.

— @@@@ —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s